CERPEN

 BENARKAH “DIAM ITU EMAS?”

                                                    Karya: Antonius Gatul


       Tidak ada yang tahu tentang hati seseorang. Memang kalau dikaitkan dengan cinta, susah sekali untuk ditebak. Sejak dulu, Aku selalu mengidam-idamkannya. Seperti bunga yang sel


alu mekar indah yang membuat bola mataku tertarik untuk melihatnya. Kami satu kampung, rumahnya tidak jauh dari rumahku. Seiring berjalannya waktu, perasaan ini pun ikut berjalan ke yang lebih besar terhadapnya. Mungkin ini kelihatan konyol, tapi aku selalu bingung, kenapa aku terus membayangkannya. 

Memang, Dialah bunga desa yang aku cari. Bunga yang memberikan warna terhadap hidupku. Namun, kenapa hati ini tidak bersahabat dengan mulut, yang selalu enggan untuk berbicara jujur. Susah sekali untuk mengungkapkanya. Biarpun ada kesempatan berduaan, tapi Aku tidak memberanikan diri untuk mengatakanya. 

Tepat pada hari Minggu, Aku melihatnya berjalan sendirian pulang dari gereja. Aku membranikan diri untuk menghampirinya. “ hay, kok sendirian?” sapa Ku. “ iya nih, mama ku sudah pada duluan” sahutnya. “ohhh.... tdak apa- apakan, kalau aku jalan sama kamu” lanjutku. “ santai sajalah kak”, jawabnya sambil memberikan senyuman manja, yang tentunya dapat membunuh hatiku. Diperjalanan pulang tersebut, kami saling bercanda tawa yang mewarnai perjalanan pulang kami. Sangat nyaman saat bersamanya, hatiku ingin melempiaskan hasratnya, tapi berat untuk mengatakannya. Kalau terus begini, kemungkinan besar aku terserang penyakit TBC“ tekanan batin cinta kali ya hehehehe” . Memang terasa lucu, setiap kali aku mau mengukapkan perasaanku, lidahku ini selalu mengalihkan pembicaraan.

Menjelang Natal, para muda-mudi dikampung kami merancanggkan sebuah acara malam kesenian, demi memeriahkan perayaan Natal. Kegiatan yang dirancangkam oleh muda-mudi tersebut didukung penuh oleh orangtua setempat. Kami mengadakan beberapa pertemuan demi memperlancar kegiatan tersebut, hingga menemukan titik temunya adalah kami akan membawakan beberapa mata acara, antara lain: membawakan drama, puisi, dance, dan bernyanyi. Dalam acara tersebut, yang merupakan acara intinya adalah pementasan drama, yang bertemakan tentang kasih, dengan pemeran utamanya adalah sebagai Melati dan Primus Senja. Secara tidak terduga dalam pemeran dramanya, ketua panitia memilih saya untuk menjadi Primus Senja dan lebih mengejutkan lagi Melatinya adalah Dia yang selama ini aku kagumi. Hatiku merasa terguncang setelah mendapatkan tugas tetsebut yang ditambahkan dengan kehadirannya. “ entahlah....”

Setiap latihan berlansung, kami menekuninya dengan serius. Setiap adegan yang dibawakan rasanya ini adalah bukan drama semata, tapi kisah kasih kami dalam kehidupan sehari-hari yang betul- betul terjadi. Setiap adegan kami selalu bertatapan dan baku senyum. Perasaan ini makin menjadi-jadi, apalagi dalam drama ini mengisahkan tentang kasih. Banyak kesempatan dalam drama tersebut untuk berpapasan dengannya, memegang tangannya, bahkan mengecup keningnya. Ini bukan kesempatan dalam kesempitan, tapi ini mengikuti adegan drama.”hehehehehe....” Hinga pada hari pementasa, Kami menampilkan yang terbaik dan menunjukkan kerja keras kami selama latian. Orangtua dan muda-mudi lainnya menyoraki kami dengan menyuarakan kata cocok!!! Yang membuat suasana tambah heboh, diikuti hati juga heboh karna malu...kupandang curi mukanya yang memerahan itu, mungkin Dia juga malu.

Selesai pementasan, Dia menatapku dengan sederhana, Dibola matanya terlukis wajah Ku yang kian membesar, Aku tidak tahu dibalik kesederhanaan tatapanya itu, apa isi hatinya? Aku menatapanya balik dengan penuh arti, sambil memegang tangannya. “Trimakasih ya kk, sudah membuat aku semangat, aku tidak akan melupakan momen ini, ujarnya. Hatiku selalu mendesak ingin mengatakan yang sebenarnya. “ohhh... iya... sebenarnya dimalam ini juga, aku mau ngomong sesuatu sama kamu”. “ngomong apa kk” responnya. “sebenarnya aku.... “. Dia mendengarnya dengan tak sabar dan penasaran. “apa kk?”...sahutnya. “aku...... juga ingin  bertrimaksih sama kamu. Hehehe...”. “ahhh kakak kirain apa..” Sambarnya dengan muka lesu...Memang tidak bisa diungkapkan. Mau sampai kapan begini terus....

Hingga sampai saat ini, Aku hanya bisa terdiam terpaku. Tinggalkan rasa sesak didadaku menunggu waktu yang tepat. Aku sangat meragukannya. Kalau dilihat dari bola matanya dan cara berbicaranya itu, mungkin juga dia merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan. Tapi hatinya susah sekali untuk ditebak. Kalau memang takdir Tuhan untuk bersatu, pasti ada waktu yang tepat.


Komentar

Postingan Populer